Eagle Awards WINNER 2006

SA_Hj_Rabiah_mainSA_awarding

Suster Apung,
Film Terbaik + Film Dengan Sinematography Terbaik + Film Favorit Pemirsa

Andi Arfan Sabran dan Suparman Supardi – Makasar

Sinopsis:

Hj. Rabiah telah bertugas sebagai perawat selama 28 tahun hingga sekarang di kepulauan Liukang Tangaya di selatan Pulau Sulawesi, dekat perairan laut Flores. Ia harus menembus ganasnya gelombang laut dan melawan batas kewenangannya sebagai perawat, serta tidak menyerah oleh keterbatasan fasilitas yang ada di tempat-tempat terpencil tersebut.

Hajjah Rabiah has dedicated her life to health services since 1978. She works as a nurse in Liukang Tangaya Islands, South Sulawesi, near Flores Sea. Everyday, she has to fight against the cruelty of sea waves with unpredictable tides, and when she lands, she still has to face the lack of proper medical kits in her service area. Yet, not one day she ever gives up on her fate and destiny.

SA_anak
Biodata Pemenang 1, Eagle Award 2006:

¤   Nama : Andi Arfan Sabran
¤   Tempat / Tanggal Lahir : Makasar, 12 Oktober 1981
¤ Pendidikan : Program Studi Biomedik, Konsentrasi Mikrobiologi, Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin

Motivasi :
Motivasi saya mengikuti EWADC 2006 ini adalah untuk menyampaikan ide dan reaksi saya melalui film dokumenter terhadap realita-realita yang ada tapi belum pernah ataupun masih belum terkaji begitu jauh. Bangsa kita harus tahu sejarahnya!. Selain itu saya sangat ingin menggeluti film dokumenter dan memberikan sumbangsih karya-karya di bidang tersebut.

Pengalaman di dunia fillm :
Pengalaman di dunia film belum ada sebelumnya. Namun sering membuat dokumentasi pribadi seperti dokumentasi perjalanan penelitian dan dokumentasi perjalanan-perjalanan ke daerah pedalaman. Selain itu pernah membuat film independen yang berjudul “Sajarah Tanpa Kata” yang bercerita tentag keluarga korban penghilangan paksa.

Prestasi-prestasi
Beberapa bidang lain saya tekuni hingga sekarang seperti sains, teater seni peran, puisi, dan desain grafis.
Beberapa prestasi di bidang-bidang tersebut adalah:
- Finalis Baca Puisi di Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Lampung tahun 2004
- Juara I Baca Puisi di Pekan Seni Mahasiswa Daerah Sulawesi Selatan di Makasar tahun 2004
- Juara Harapan I Lomba Desain Poster di Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Yogyakarta tahun 2002
- Juara II Lomba Karya Tulis Mahasiswa se-Universitas Hasanuddin di Makasar

¤   Nama : Suparman Supardi
¤   Tempat / Tanggal Lahir : Bau Bau, 1 April 1982
¤   Pendidikan : Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Hasanuddin

Motivasi
Mengungkapkan dan menyampaikan sudut pandang, pengenalan, dan apa yang saya maknai tentang Indonesia melalui film dokumenter.

Prestasi di bidang musik
- The best guitarist di Festival Musik Kampus di Universitas Hasanuddin tahun 2004.

¤ Film Dengan Editing Terbaik,
Di Atas Rel Mati

Rel“Diatas Rel Mati”
(On The Abandoned Track)
Sutradara ( Director)
Nur Fitriah dan Welldy Handoko

Synopsis
Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto menuturkan tetang keseharian mereka sebagai ‘anak lori’. Anak-anak ini mencoba bertahan hidup dengan menyediakan jasa transportasi lori dorong, sebuah alat untuk mengangkut penumpang dan barang yang kerap dimanfaatkan oleh warga kampung Dao Atas, Ancol – Jakarta. Latar belakang kemiskinan yang membuat mereka putus sekolah. Kehidupan sebagai anak lori membuat mereka beranggapan bahwa sekolah tidak penting. Hal menimbulkan sikap skeptis dalam memandang masa depan.

Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto live their days as a lorry carriers. These kids try to make their ends meet by using their lorry trucks to transport goods and people around the village of Dao Atas, Ancol, North Jakarta. They do not go to schools because they cannot afford school fees. For them, school is not important, because they can make money from their lorry trucks. Somehow, their harsh lives result in skeptical views about their future.

¤ Film Dengan Ide Cerita Terbaik,
BentengBenteng Pantura

Sutradara (Director)
Jajat Rio Rismana dan Hermawan

Synopsis
Seorang warga desa ilir – Indramayu yang bernama Solikin (64 tahun) mencoba menyelamatkan Pantai Utara Jawa di tengah abrasi  dengan cara meraklamasi pantai. Dalam proses reklamasi, Solikin mendapatkan berbagai pertentangan dari warga sekitar. Akankah Solikin bertahan dalam upayanya menyelamatkan pantai utara dari gerusan abrasi?

Solikin (64 years old), a resident of a village in Indramayu, tries to rescue the North Shore of Java Island in the midst of erosion by reclamation of the beaches in the area. During the process, Solikin faces opposition from other residents. Can Solikin survive his fight and save the North Shore?

Latest Stories

  • PENGUMUMAN 23 PROPOSAL TERBAIK EAGLE AWARDS 2012” INDONESIA TANGGUH”.
    Read More
  • PENGUMUMAN 50 BESAR PROPOSAL EAGLE AWARDS 2012” INDONESIA TANGGUH”.
    Read More
  • SELEKSI PROPOSAL 50 BESAR EADC 2012 "INDONESIA TANGGUH" .
    Read More
  • Pendaftaran Eagle Awards 2012 Indonesia Tangguh.
    Read More

Twitter